sejarah kediri

KEDIRI DALAM SEJARAH



A.KERAJAAN KEDIRI

Awal penyebutan nama Kadiri didapatkan dari sumber tertulis tertua, yaitu Prasasti Harinjing yang ditemukan pada tahun 1916 di Desa Siman Kecamatan Kepung Kabupaten Kediri. Prasasti harinjing memuat tiga maklumat yang dikeluarkan oleh penguasa dalam waktu yang berbeda. Ketiga prasasti tersebut diberi nama Harinjing A, bertarih 25 Maret 804 M, Harinjing B, bertarih 19 September 921 M, dan Harinjing C bertarih 7 Maret 9237 M.
Berdasarkan isi ketiga prasasti tersebut, dapat diketahui bahwa nama Kadiri tercantum dari dalam prasasti Harinjing B. isis prasasti yang menyebut nama Kadiri tepatnya pada sisi belakang (verso) baris ke enambelas yaitu : “sri maharaja mijil angken cetra ka 3, I sang pamgat asing juru I kadiri ikang ri wilang” (Sri Maharaja setiap bulan Cetra (Kesanga) tanggal 3, dan kepada sang pamgat asing juru di Kadiri desa Wilang).
Sementara munculnya Kerajaan Kadiri berawal dari bergesernya Kerajaaan Mataram Kuno di Jawa Tengah ke Jawa Timur. Mpu Sindok sebagai bangsawan yang berasal dari Kerajaan Mataram mendirikan Kerajaan baru di Jawa Timur dengan gelar “Rakai Hino Mpu Sindok Sri Icana Wikramadharma Tunggadewa (929-947 M)”. Ibu kota negara Icana tidak jelas, diperkirakan di Nganjuk atau sekitar Maospati, Madiun sekarang.
Setelah Mpu Sindok meninggal tahun 947 M kepemimpinan pemerintah Mataram diganti oleh putrinya Sri Icana Tunggawijaya yang bersuamikan Lokapala. Dari perkawinan ini lahirlah anak laki-laki, Makutawangsawardhana (991M) yang menggantikan kedudukan Sri Icana Tunggawijaya. Makutawangsawardhana mempunyai anak perempuan yang cantik sekali, yaitu Mahendradatta atau Gunapriyadharmapatni yang bersuamikan Raja Udayana dari Bali. Dari perkawinan ini salah satu putranya adalah Airlangga. Selanjutnya pada tahun 991-947 M Kerajaan Mataram dikendalikan olah Sri Dharmawangsa Tguh Ananta Wikrama Tunggadewa yang menggantikan Makutawangsawardhana. Pada tahun 1016 M ketika Dharmawangsa sedang mengadakan pesta perkawinan putrinya dengan Airlangga terjadilah peristiwa pralaya, karena secara tiba-tiba diserang oleh Raja Wura-wuri dalam peristiwa Dharmawangsa terbunuh, sedangkan Airlangga berhasil meloloskan diri dengan diiringi abdi setianya Narottama.
Kemudian pada tahun 1019, atas permintaan beberapaadipati dan kaum Brahmana yang masih setia, Airlangga diangkat sebagai raja yang bergelar Sri Maharaja raka Halu brahmana Dharmawangsa Airlangga Ananta Wikramatunggdewa (1019-1042 M). pada masa pemerintahannya dipindahkan ibu kota kerajaan dari Wwtan Mas Ke Kahuripan (1037 M). air;angga mengangkat putri tertuanya, yaitu Sanggramawijaya sebagai putra mahkota, akan tetapi secara tiba-tiba setelah masanya menjadi raja putri ini menolak dan memilih sebagai pertapa yang dikenal sebagai Dewi Kilisuci. Hal ini menimbulkan kesulitan bagi Airlangga, pada tahun 1041 dibagilah kerajaan menjadi dua untuk kedua orang putranya. Pembagian kerajaan ini dilakukan oleh seorang yang sangat saktiyaitu Mpu Bharada. Samarawijaya mendapat Kerajaan Panjalu (Kadiri) dengan ibu kotanya Dhaha dan Mapanji Garasakan mendapat Kerajaan Janggala dengan ibu kotanya kahuripan. Setelah membagi kerajaan Airlangga menarik diri sebagai pertapa dengan nama Resi Gentayu. Ia wafat pada tahun 1049 dan dimakamkan di Tirtha, sebuah bangunan suci yang terdiri atas kolam-kolam di lereng Gunung Penanggungan dan yang terkenal sebagai Candi Belahan.
Setelah kerajaan dibagi dua, maka dari sinilah dimulai sejarah Kerajaan Kadiri. Berdasarkan data-data yang ada dapat diketahui bahwa Janggala diperintah oleh beberapa orang raja yaitu :
1.Sri Maharaja Garasakan (1044 – 1052)
2.Raja mapanji Alanjung ahyes (1052 - 1059)
3.Sri Maharaja Sri Samarotsaha (1059)
Setelah itu Jenggala tidak terdengar lagi, kebesaran namanya digantikan dengan munculnya Kerajaan Panjalu yang lebih terkenal dengan nama DHAHA. Letak ibu kota kerajaan ini diperkirakan terletak di Kota Kediri sekarang. Rajanya yang pertama adalah Bameswara (1115 - 1134). Untuk mengakhiri perang dengan Jenggala Bameswara (Kameswara I) mengawini putri dari Jenggala yang bernama Sri Kirana. Hal ini diyakini sebagai perkawinan politik yang diterapkan kedua belah pihak. Pada masa ini banyak bermunculan pujangga-pujangga terkenal. Salah satu yang populer adalah Mpu Dharmaja, pengarang kitab Samara Dahana dan Mpu Tanakung, pengarang Lubduka dan Wertansatya.
Pada tahun 1135 -1157 M, Sri Warmmeswara atau Jayabaya yang juga terkena; sebagai seorang pujangga memerintahkan kerajaan Kadiri. Pada masa ini hidup Mpu sedah yang menyalin Kitab Baratayuda dari buku Mahabarata, dan Mpu panuluh yang kemudian menyeleseikan buku Mahabarata. Pada periode ini Kadiri mampu mencapai puncak kejayaan baik dibidak politik, ekonomi, maupun sosial budaya. Setelah Jayabaya, Dhaha diperintah oleh Sri Sarwweswara Janarddhawatara (1159 – 1161 M), Sri Aryyeswara Mdhusudhanawatararijaya (1171 – 1174 M), Sri Krocaryyadipa / Sri Gandra (1181 – 1182 M), Sri kameswara Triwikramawatara / kameswara II (1194 – 1222 M), yang memerintah secara sewenang-wenang hingga timbul pemberontakan yang melemahkan kerajaan, seperti misalnya dengan golongan pendeta. Dari pertentangan tersebut golongan pendeta menyingkir ke Tumapel yang selanjutnya mengadakan pemberontakan melawan Kertajaya, di mana Kadiri runtuh karena serangan Ken Arok, yang akhirnya memindahkan kekuasaan kerajaan ke Singasari.
Namun saat Singasari diperintah oleh Kertanegara, Jayakatwang, seorang raja keturunan Kertajaya menyusun kekuatan dan berhasil merebut kembali tahta Kerajaan Kadiri (1292 M). dalam serangan ini Kertanegara meninggal, tapi salah seorang keturunannya yang bernama R. Wijaya berhasil mengungsi ke Madura. Tapi pada tahun 1293 M, akhirnya Kadiri dapat diruntuhkan kembali oleh R. Wijaya yang mendapat bantuan dari tentara Tar-tar pasukan Kubilai Khan.
Sejak saat itu status Kadiri merupakan kerajaan bawahan bagi Majapahit. Meskipun sebagai kerajaan bawahan, tapi peranan Kadiri masih sangat strategis dan mempunyai peranan penting bagi pusat kerajaan. Hal ini terbukti bahwa raja-raja yang ditempatkan di Kadiri adalah kerabat raja. Bahkan seringkali raja-raja yang ditempatkan di Kadiri adalah raja muda (yuwaraja) putra mahkota yang disiapkan menjadi raja.
Pada periode akhir Majapahit, tatkala kerajaan ini mengalami disintegrasi akibat perang saudara, penguasa Kadiri berusaha bangkit kembali. Bahkan pada tahun 1474 berhasil menumbangkan hegemoni Majapahit. Pada masa itu sampai dengan tahun 1527 M kekuasaan kembali bergeser ke Kadiri, seperti disebutkan dalam prasasti JIU, bahwa pada tahun 1486 M nama kerajaan berubah menjadi Wilwatikta Dhaha Janggala Kadiri, yang posisi geografisnya berada di Janggala. Kadiri di bawah dinasti Girindrawardhana dengan pusat kekuasaan di Kling.




















SKEMA URUTAN RAJA MASA JAWATIMUR

























































Pada awal perkembangan Islam, Kediri juga mempunyai peranan penting. Meskipun tidak menjadi pusat pemerintahan, Kediri memiliki peranan yang sangat strategis sebagai pusat penyebaran dan pengembangan Agama Islam di wilayah pedalaman. Bukti pentingnya adalah diambilnya Putri adipati Kediri yang bernama Raden Ayu Candrasekar menjadi istri Sunan Drajat. Sebagai salah seorang Wali Songgo yang bertugas menyebarkan Islam diseluruh pelosok daerah Kediri dan sekitarnya. Selain itu peninggalan makam kuno “Setono Gedong”, makam kuno di Burengan, Sunan Geseng di jamsaren dan makam-makam kuno lainnya merupakan bukti nyata peranan Kediri dalam pengembangan Agama dan Budaya Islam pada masa itu.
Pada masa kolonial, Kediri juga memiliki peranan sangat penting bagi daerah-daerah di sekitarnya maupun bagi Pemerintah Belanda. Sebagai daerah yang subur, Kediri menjadi pilihan pemerintah belanda dan perusahaan-perusahaan asing lainnya untuk pengembangan kegiatan agraris sebagai daerah perkebunan, perdagangan dan industri.
Pada masa sekarang Kediri tumbuh menjadi kota industri, perdagangan, agamis dan menjdi daerah tujuan wisata baik bagi masyarakat Kediri sendiri maupun dari luar kota. Industri besar di Kediri adalah PT Gudang Garam yang mempunyai sekitar 62 ribu pegawai. Dibidang perdagangan berdirinya pusat-pusat perbelanjaan seperti Sri Ratu, Golden, Dhoho Plasa, pusat pertokoan Jalan Dhoho, Mc Donald, Indomart, alfamart dll. Dibidang keagamaan di Kediri banyak berdiri pondok pesantren seperti Pondok Lirboyo dengan santri sekitar 10 ribu orang, Pondok Kedunglo, Ponpes LDII dll. Disamping itu juga terdapat Gereja-gereja yang sudah dibangun sejak jaman penjajahan Belanda seperti Gereja Merah (BPIB) yang berdiri sejak tahun 1904, Gereja Vincentius yang berdiri tahun 1925, Pure Sekartaji dan Klenteng Tri Dharma.

B.SEJARAH KOTA KEDIRI

Berdasarkan staatsblad (Undang-undang Kerajaan Belanda) no. 148 tanggal 1 Maret 1906, mulai berlaku tanggal 1 April 1906, di Kediri dibentuk Gemeente (Kotapraja) Kediri sebagai temapat kedudukan Resident Kediri. Sifat pemerintahan di Kediri tersebut olah Belanda diberika kewenangan otonom terbatas dan sudah mempunyai Gemeente Raad sebanyak 13 orang. Yang terdiri dari 8 orang golongan Eropa yang disamakan, 4 orang pribumi (Inlander) dan 1 orang Bangsa Timur Asing. Berdasarkan Staatsblad no. 173 tanggal 13 Maret 1906, Bengsa Belanda menetapkan anggaran keuangan sebesar f. 15.240 dalam satu tahun. Tanggal 1 Nopember 1928 berdasarkan staatsblad no. 498 status Kediri menjadi Zelfstanding Gemeenteschap mulai berlaku tanggal 1 Januari 1928, yaitu daerahyang memiliki Otonomi Penuh.
Meskipun telah dibentuk “de Gemeente Kediri” pemerintah dalam negeri atau Algemene Bestuursvoering tidak dipegang oleh Gemeente Kediri tetapi dipegang oleh Het Inlandeche Bestuur yang dipimpin oleh Regent Van Kediri (Bupati), wewenang Gemeente Bestuur hanya meliputipengurusan got-got dalam kota, pungutan karcis pasar, pemeliharaan jalan kota dan pungutan peneng sepeda.
Pemerintah umum dipegang Asisten Wedono dan Bupati, jadi tidak ada hubungan hierarkis di dalam pemerintahan umum dengan Bestuur, yang terjadi hanya merupakan hubungan kerja dan kepamongprajaan yang saat itu dipegang oleh Bupati Kediri.
Setelah Belanda menyerah kepada Jepang tanggal 10 Maret 1942, maka Kota Kediri pun mengalami perubahan pemerintahan. Karena wilayah kerja Gemeente Kediri begitu kecil dan tugasnya sangat terbatas, maka oleh pemerintah Jepang daerahnya diperluas menjadi daerah kota. Daerah Kediri Shi atau Kediri Kota dikepalai oleh seorang Shico.
Kediri Shi terdiri dari 3 son (kecamatan) dan dikepalai oleh Shonco Son (Camat) yang terdiri dari beberapa Ku (Desa), dimanapun setiap Ku dikepalai oleh seorang Kucho (Kepala Desa). Pemerintahan Kediri Shi dipimpin oleh seorang Shico (Walikota madya), dimana kekuasaannya tidak saja menjalankan Algemeen Bestuur (pemerintahan umum). Hanya dibidang ekonomi tidak didampingi oleh DPRD, karena wewenang penuh berada ditangan Kediri Shico.
Jatuhnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki membuat Jepang bertekuk lutut di hadapan sekutu, dimana pada saat itu dilanjutkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. tidak lama setelah itu Syodancho Bismo (mayor Bismo) bersama-sama Gerakan Pemuda mengambil alih kekuasaan pemerintah dari tangan Jepang. Mayor Bismo mengawali masuk dan membimbing Fuku Cho Kan Abdul Rochim Pratolikrama mengumumkan kesediaan diri berdiri di belakang Pemerintahan RI dan mengangkat diri sebagai Residen RI Daerah Kediri yang pertama.
Maka habislah pemerintahan Jepang di Kediri dan beralih kepada pemerintahan Republik Indonesia. Mula-mula Walikotamadya didampingi oleh Komite Nasional Kotamadya, kemudia daerah berkembang sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Adapun urutan perundangan sampai Kediri menjadi Pemerintah Kota adalah sebagai berikut :
UU RI no. 22 Tahun 1948 tentang Prinsip daerah Otonom.
UU RI no. 44 Tahun 1950 STBL. No. 488 / 28 dicatat dengan UU no. 16 Tahun 1950 tanggal 14 Agustus 1950 tentang Pembentukan Kota Besar.
Peraturan Presiden no. 22 Tahun 1963 tanggal 25 September 1963 tentang Penghapusan kawedanan dan Karesidenan.
UU RI no. 18 Tahun 1965 tentang Daerah Otonom dan Sebutan Menjadi Kotamadya, dengan SK. 42 / Um tanggal 26 Mei 1966 mengubah Kota Praja menjadi Kotamadya.
UU RI no. 1 Tahun 1967 tentang Bentuk Pemerintahan daerah Kota Praja dan daerah Swantantra Tingkat II
UU RI no. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintah Daerah.
UU RI no. 22 tentang Pemerintah Daerah.

C.HARI JADI KOTA KEDIRI

Sumber tertulis yang digunakan sebagai dasar penentuan Hari Jadi Kota Kediri adalah Prasasti Kwak I yang bertarih 27 Juli 879 M. Prasasti ini dikeluarkan atas dasar perintah Sri Maharaja Rake Kayuwangi sebagai maklumat kerajaan Mataram atas penetapan sawah perdikan (sima) di Wanua Kwak, yang merupakan dharma dari rekarayan baik terhadap prasadha di Kwak maupun sebagai pembiayaan bagi uapacara (yajna) pada setiap bulan Caitra yakni manakala matahari melintasi katulistiwa (bisuwa), pada bangunan suci di Pastika.
Berdasarkan pada isi Prasasti Kwak ini didapatkan gambaran bahwa masyarakat Kediri adalah masyarakat yang religius. Hal ini dibuktikan dengan adanya sumbangsih masyarakat Kediri yang tanahnya mendapat anugrah kesuburan lebih tidak sebatas untuk kegiatan kegamaan di wilayahnya sendiri, namun didharmakan pula untuk kegiatan keagamaan yang serupa di wilayah lain. Masyarakat Kediri pada saat itu juga sudah cukup maju, sebab kompleksitas kehidupan di Wanua Kwak, yang ditandai dengan adanya sistem birokrasi yang komplek, rinci, spesifik dan teratur meupun kemampuan teknomik dan sosiotekniknya dalam mengelola sumber daya keairan merupakan bukti yang tek terelakkan.
Sumber tertulis yang digunakan sebagai dasar penentuan Hari Jadi Kota Kediri adalah Prasasti Kwak I yang bertarih 27 Juli 879 M yang sisanya sebagai berikut :
Swasti cakrawarsatita 801 crawanamasa tithi pancami cuklapaksa, wukurung, umanis, soma, wara tatkala ajna Cri Maharaja Rake Kayuwangi tumurun 1 rakarayan kagnap hino watu tihang bawang cirikan umanugrahakna ikanang tgal 1 kwak watak wka, gana-gana tampah 4 sinusuk gawayan sawah maparaha cima ni kanang prasada 1 kwak dham rakarayan wka pu catura, buat thajyanya mangraga kwamwang ing pastika, akan bisuwa caitrasuji, ujar haji kinon rakarayan wka, mangasaekna pasek-pasek yathanyan mapagebha 1 dlaba ning dlaba. Cibnanyan sampun mapageb ikaning tgal 1 kwak sinisuk gawayan sawah cimanikang prasada 1 kwak, kunang asing umulabulah ikeng cima salwirning sangsara penggubanya.
Artinya :
“Selamat tahun saka telah lewat 801 bulan srawana tanggal lima paro terang hari pasaran wukurung umanis soma ketika perintah Sri maharaja Rekai Kayuwangi turun kepada para rakarayan lengkap Rakai Hino, Rakai Watutaihung, Rakai Bawang, Rakai SIrikan yaitu menganugrahkan sebidang tanah tegakan di Kwak dari Watak Wka luasnya 4 tampah agar dibatasi dibuat sawah untuk kepentingan sima dari bangunan suci di Kwak sebagai dharma milik rakarayan Wka pu Catura. Kuwajiban terhadap raja yang harus terpenuhi adalah menyerahkan manraga kamwan di Candi Pendharmaan seorang raja yang harus terpenuhi adalah menyerahkan manraga kamwan di Candi Pendharmaan seorang raja pada setiap bisuwakala yaitu pada saat Bulan Caitra dan Asuji. Demikian ucapan raja sebagai perintah kepada rakarayan waka dipersembahkan hadiah untuk itu kuatlah hingga akhir jaman keputusan ini”.
Begitulah bukti telah diresmikan tanah tegalan di Kwak yang dibatasi dibuat sawah sebagai sima dari bangunan suci di kwak, dan barang siapa ulah pada sima itu segala kesengsaraan akan dijumpainya.
Begitulah kira-kira terjemahan huruf-huruf yang terdapat pada Prasasti Kwak yang ditemukan di Kwak yang akhirnya dijadikan dasar berdirinya Kota Kediri. Atas keteladanan Wka Pu Catura dan sebagai dharmanya, maka ditetapkanlah tanah tegal di Wanua Kwak sebagai sawah pardikan (sima) oleh Raja Mataram, Sri Maharaja rakai Kayuwangi. Seiring dengan perkembangan jaman berkembang pula Wanua Kwak yang hanya sebagai pardikan menjadi suatu komunitas kehidupan yang mempunyai sitem sosiobudaya yang teratur pada jamannya hingga menjadi sebuah kerajaan sebesar Kediri dan berjaya pada masanya. Dan berdasarkan pada prasasti Kwak inilah, kahirnya tanggal 27 Juli 879 M dijadikan sebagai hari jadi Kota Kediri.
Pemberian anugrah oleh kerajaan terhadapwarga Wanua Kwak yang salah satu bagian dari wilayahnya ditetapkan sebagai sima dilakukan dengan upacara penetapan sima atau dalam prasasti dikenal dengan Upacara Manusuk Sima.
Upacara Manusuk Sima merupakan upacara resmi yang dilakukan oleh suatu daerah yang mendapat anugrah beripa tanah sima dari kejayaan. Sima memiliki pengertian sebidang tanah yang diberi batas, dibebaskan dari pajak-pajak tertentu dan sejumlah kewajiban oleh raja atau pejabat tinggi.penetapan sima membawa beberapa perubahan terhadap status tanah dan pendukungnya.
Hal ini disebabkan tanah sima memiliki beberapa keistimewaan, yaitu :
1.Mempunyai kekuatan hukum yang pasti. Biasanya ketetapan ini dituangkanke dalam sebuah prasasti yang diumumkan pada waktu upacara penetapan sima.
2.Tanah sima berstatus swatantra artinya para penarik pajak dari kerajaan tidak diperbolehkan menarik pajak di wilayah sima.
3.Tanah sima juga merupakan tanah suci, apalagi jika di atas tanah sima terdapat bangunan suci.
4.Status tanah sima sifatnya tidak terbatas atau berlaku untuk selama-lamanya.
Upacara manusuk sima di Kwak merupakan acara resmi yang harus dilakukan karena warga Wanua Kwak di bawah pimpinan Rakai Wka Pu Catura mendapat anugrah dari kerajaan berupa sawah sima.

D.PERINGATAN HARI JADI KOTA KEDIRI

Untuk menggali kembali nilai-nilai historis masa lampau maka setiap tahun Pemkot Kediri juga mengdakan Upacara Manusuk sima. Merekontruksi peristiwa masa lampau untuk kemudian ditampilkan ke dalam sebuah acara yang bersifat edukatif dan rekreatif tanpa harus menghilangkan alur peristiwa dan makna tradisi yang sebenarnya. Berdasarkan pada hal tersebutmaka sangat tepat jika pada setiap peringatan Hari Jadi Kota Kediri dilaksanakan kembali upacara Manusuk Sima seperti halnya pada saat itu dilakukan untuk penetapan tanah sima yang ada di Wanua Kwak.
Pelaksanaan Upacara manusuk sima selalu dipusatkan di sumber air Kwak (Pemandian Tirtoyoso). Di tempat inilah didirikan witana atau panggung untuk tempat pelaksanaan upacara tradisi Manusuk sima. Beberapa perlengkapan yang diperlukan diantaranya : uborampi (terdiri dari tambra prasasti, batu sima, batu kalumpang, ayam jantan cemani, telur, dupa dan kemenyan); sesajian terdiri dari : emas seberat 8 masa, kain bebed sebanyak tiga yugala, beras satu pada, uang keeping (wsi iket), sepuluh halu-halu (alat pemukul dengan ujung besi), empat besi, empat ikat wadung (kapak), satu rimwas (kapak kecil), satu tara tarah (beliung), satu tampilan (mata bajak), satu keris, satu tatah, satu landuk (parang), satu linggis, satu dandang, satu piring tembaga, padamaran (lampu), bunga setaman, nasi tumpeng, nasi brok dan sego golong; pisungsung terdiri dari : emas dan kain bebed (jarit)



BAB III
SUMBER BERITA BUDAYA MATERI KEBUDAYAAN LOKAL KEDIRI


A.DI KOTA KEDIRI

1.GUA SILOMANGLENG
Terletak di kaki gunung Klotok di Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto, yang merupakan wilayah sebelah barat kota Kediri. Goa ini diperkirakan sengaja dibuat oleh manusia, ratusan dan ribuan tahun silam. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya relief-relief yang menghiasai dinding goa, sayangnya pahatan itu masih misteri dan belum dapat diungkapkan secara rinci apa maknanya (ada yang mangatakan relief-relief tersebut menceritakan tentang kehidupan), dan adanya arca-arca pemujaan.
Berdasarkan cerita rakyat, Goa Selomangleng merupakan tempat pertapaan Dewi Kilisuci (rara kapucangan) seorang Ratu Kediri yang pada akhir hayatnya menjauhkan diri dari keramian dunia. Oleh sebagian kecil orang, tempat ini sekarang masih digunakan untuk bertapa (lelaku/lelampah). Ada yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, tetapi ada juga yang disalahgunakan. Ada kemungkinan pada masa dahulu digunakan sebagai pusat pengembangan kesustraan dan penyempurnaan huruf Jawa.
Kawasan Goa Silomangleng, kini menjadi obyek wisata lengkap di kota Kediri, banyak hal yang dikatakan oleh Amos Rapoport (1969) pengembangan wisata di Goa Selomangleng dapat dijadikan sebagai folk tradition (dibuat justru untuk mempertahankan aspek-aspek tradisional yang menjadi ciri khas lingkungan dan jati diri masyrakat)

2.SUMBER CAKARWESI
Berada di desa Tosaren, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, merupakan sumber mata air yang alami dengan tumbuhan pohon-pohon yang besar disekelilingnya. Konon merupakan pintu rahasia untuk masuk ke keraton Kediri yang digunakan oleh Raden wijaya saat menyerang tentara Tartar yang sedang berpesta pora kemenangan setelah berhasil mengalahkan prajurit Kediri dan berhasil membunuh Prabhu Jayakatwang.

3.KOMPLEK MAKAM SETONO GEDONG
Berada di kawasan jantung kota, tepatnya di Kelurahan Setonogedong Kota Kediri. Kompleks makam Setono Gedong masih menyimpan misteri tentang adanya sebuah bangunan dari tumpukan batu. Sebagian menganggap tumpukan itu dulunya adalah candi, dan sebagian yang lain beranggapan bangunan masjid.
Nama Setono Gedong berasal dari Astono yang berarti makam, dan Gedong atau bangunan. Di kompleks ini terdapat banyak makam orang-orang ternama, antara lain, makam Sunan Mas (Amangkurat III), seorang penantang Belanda yang kemudia tewas sebab mempertahankan sikapnya, juga ada makam Sunan Penanggung, Sunan Bagus, Sunan Demang (yang bentuk bangunan makamnya masih asli dari batu bata), Sunan Kabul, Sunan Dagng, dan wali Arba’ (wali empat)
Pada hari-hari tertentu kompleks Setono Gedong ramai di kunjungi para peziarah dengan tujuan dan maksud tertentu.

4.MAKAM SUNAN GESENG
Terletak disebelah timur Alun-alun Kota Kediri, merupakan makam tokoh penyebar agama Islam di Kediri. Sunan Geseng yang bernama asli Ki Cokrojoyo salah seorang murid sunan Kalijogo yang berdakwah dengan sangat santun dan arief, yaitu melakukan pendekatan budaya dengan masyarakat Jawa, khususnya di daerah Kediri.

5.MAKAM KUNO MBAH BANCOLONO
Terletak di kawasan wisata Selomangleng, amkam Mbah Bancolono berada di ketinggian puncak bukit (gunung) maskumambang. Konon Mbah Bancolono seorang yang sakti dan selalu mendermakan hartanya kepada rakyat miskin. Masyarakat setempat menyebutnya dengan Maling Gentiri.

6.MASJID AGUNG KOTA KEDIRI
Bersamaan dengan mundurnya kekuasaan kerajaan majapahit, muncullah kekuasaan baru dengan warna Islam di bawah kekuasaan Kesultanan. Agama islam mendapat perhatian tinggi dan diurus melalui tatanan struktur pemerintahan Kesultanan. Di setiap dusun, desa, kecamatan, dan kabupaten ada satu lembaga keagamaan. Masih dikenal sampai sekarang istilah Penghulu Dalem, Penghulu Ageng, dan Naib. Di setiap kota/ kabupaten masih lestari adanya Masjid Agung yang diurus oleh pemerintah yang biasanya selalu berdampingan dengan Kantor Bupati dan Alun-alun (umumnya terletak di sebelah barat alun-alun), begitu juga di Kediri. Berdasarkan prasasti kayu jati (peertama), tertulis di mahkota yang dipasang di atas joglo Masjid Lama terukir tahun 1771 M, sehingga dapat diketahui Masjid Ageng Kediri dibangun pertama kali pada tahun 1771 M. sedangkan pada prasasti kayu jati (kedua) dapat diketahui bahwa mimbar (tempat khotib berkhotbah) Masjid Ageng ini dibuat pada tahun 1261 H atau tahun 1841 M. mimbar bersejarah tetap dilestarikan dan sampai saat ini kondisinya baik dan masih digunakan untuk tempat khotib berkhotbah.

7.MASJID AULIA SETONO GEDONG
Didirikan pada tahun 1917 dan terletak di kompleks makam Islam kuno Setono gedong, pada setiap malam Jum’at selalu penuh dengan peziarah yang datang dari luar daerah.

8.GEREJA MERAH (BPIB)
Gereja yang dibangun pada masa kolonial Belanda dengan arsitektur Belanda yang khas berdiri pada tahun 1904. sebagai gereja yang tertua di Kediri, dengan keunikan dimana hampir semua bagian luarnya berwarna merah, sehingga sering disebut gereja merah. Gereja ini terletak di Kelurahan Bandar Lor, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.
9.GEREJA VICENCIUS
Gereja ini berdiri pada tahun 1925 dan merupakan gereja yang mempunyai menara lonceng tertinggi di Kota Kediri.

10.MUSIUM AIRLANGGA
Didirikan pada tahun 1992 sebagai pengganti dari meseum Tirtoyoso. Museum ini terletak di kawasan Wisata Selomangleng, dan menyimpan benda-benda arkeologis peninggalan masa Kerajaan Kediri, antara lain :
a.Yoni
b.Arca Hari hara (1,78 cm)
c.Jambangan Batu
d.Batu Angka Tahun
e.Arca Dewa
f.Arca Nandi
g.Bejana atau Gentong Batu
h.Jaladwara
i.Kepala Kala
j.Fragmen Tembikar
k.Umpak Batu
l.Dan lain-lain










B.DI KABUPATEN KEDIRI

1.CANDI TEGOWANGI
Terletak di Desa Tegowangi, Kecamatan Plemahan, yang merupakan wilayah utara Kabupaten Kediri. Candi Tegowangi merupakan salah satu monument agung warisan Kerajaan Majapahit, dibangun kurang lebih 1400 masehi. Kitab Pararaton dab Negarakertagama menyebutkan bahwa “Bhre matahun setelah wafat pada tahun 1388 M kemudian di dharmakan di Tigowangi yang disebutkan berada di Kucumaputra dengan upacara Çrada (baca = Sr ada) setelah 12 tahun kematiannya”. Bhre Matahun adalah salah satu raja bawahan dari Kerajaan Majapahit pada masa Raja hayam Wuruk.
Candi Tegowangi dibangun menggunakan batu andesit dengan pondasi dari batu merah dengan orientasi arah hadap ke arah barat dengan azimuth 277.30 dengan bentuk denah persegi empat panjang : 16,25 meter, lebar 11,20 meter, tinggi : 4,29 meter, relief yang menghiasi candi ini adalah sudhamala (kisah binatang dan naga serta terdapat pula batu pripih yaitu batu berbentuk bujursangkar yang memiliki 9 buah lubang yang biasanya diletakkan pada sumuran candi yang terdapat dibawah Yoni di dasar bangunan candi, pada batu pripih ini biasanya diletakkan unsur-unsur kehidupan antara lain biji-bijian, unsur logam, dan relic abu jenazah seorang tokoh agama atau tokoh penting. Pada sudut tenggara candi induk dalam jarak 12 meter, terdapat candi perwara dengan arah hadap yang sama dengan candi induknya.

2.CANDI SUROWONO
Terletak di Desa Canggu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Candi surowono juga merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit dan didirikan pada abad 15 dan memiliki beragam keunikan baik dari segi arsitektur maupun reliefnya. Sayangnya, candi ini yang tersisa hanya kaki dan tubuh candi, sedangkan atap candi sudah runtuh.
Candi surowono dibuat untuk mendharmakan Bhre Wengker yang wafat pada tahun 1388 Masehi, Bhre Wengker adalah satu raja fatsal (bawahan) dan masih keluarga dari Raja Hayam Wuruk. Candi ini dibangun menggunakan batu andesit berpori seakan podasinya menggunakan batu merah dengan orientasi arah hadap candi ke arah barat. Relief yang digambarkan adalah cerita Arjuna Wiwaha (kisah perkawinan Arjuna), cerita Bubhuksah dan Gagang Aking serta cerita Sri Tanjung (kisah kesetiaan seorang istri) dengan arah pradaksina. Dalam kitab Negarakertagama candi ini disebut sebagai “Çurubhana (baca=Surabhana), yaitu sebuah daerah kekuasaan Majapahit yang berada di Visnubhuvanapura (baca=Wisnu-buana-pura)”.

3.CANDI DOROK
Terletak di desa Manggis, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri. Candi Dorok terbuat dari bata Merah dengan orientasi arah hadap barat, dengan ukuran 7 x 7 meter dengan tinggi bangunan yang tersisa hanya 2 meter (yang tertinggal hanya bagian kaki candi). Candi Dorok ini berada dibawah permukaan letusan gunung Kelud. Tidak banyak data yang diperoleh untuk menunjukkan serta melengkapi keberadaan dari candi ini, namun dari kajian arsitekturnya diperkirakan merupakan peninggalan masa Kerajaan Majapahit.

4.PRASASTI POH SARANG
Nama aslinya Prasasti Luçem (baca=Lusem), terletak dilereng sebelah timur gunung Wilis, dan berada pada salah satu sisi sungai Kedak, Desa Pohsarang, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri. Kondisinya masih sangat baik, menghadap kearah barat laut, bertuliskan huruf Kadiri kwadrat (Kadiri Blok Letter), dengan bahasa jawa Kuna yang dipahatkan pada sebuah batu alam utuh (Natuursteen). Huruf Kadiri Kwadrat merupakan huruf spesifik yang hanya berasal dari “Era Kadiri” dan tidak terdapat pada masa-masa jawa Kuno lainnya.
Prasasti ini terdiri dari 4 (empat) baris dengan bagian terpanjang 190 cm, sedangkan ukuran masing-masing 17 x 50 cm. isi Prasasti pohasarang yang pernah dibaca oleh Prof. MM. Sukarto Kartoatmojo, adalah :

“934 tewek ning hnu bineneraken da
Mel samgat lucem mpu Ghek
Sang apanji tepet 1 panenem
Boddhi waringin”
Artinya :
“Tahun 934 Saka (bertepatan 1012 M) batas patok jalan di
Luruskan oleh Samgat Lucem Mpu Ghek
Sang Apanji Tepet dengan penanaman
Pohon beringin”

5.ARCA TOTHOK KEROT
Arca Totohok Kerot sebenarnya merupakan arca Dwarapala, yaitu are dengan bentuk perwujudan raksasa yang menyeramkan dengan menbawa senjata gada, arca ini berfungsi sebagai arca penjaga pintuatau gerbang dan biasanya berjumlah dua buah (berpasangan), Arca Tothok Keot ini, ketika diketemukan hanya satu dan kondisinya sebagian sudah rusak serta terpendam di dalam tanah, gada yang seharusnya berada di tangan sebelah kanan sudah lepas (dirusak), tangan kiri juga sudah patah, sebagian wajah dan telinga rusak.
Dari atributnya penggembaran aksesoris berbentuk sangat dominan yaitu hiasan kepala (mahkota), dua subang, dua kelat bahu dan kalung sedangkan hiasan kaki berbentuk ular dan upawita (hiasan perut) berbentuk biasa. Secara ikonografis sangat dimungkinkanbahwa arca ini berasal dari masa Kerajaan Kediri akhir. Hal ini terlihat dari banyaknya atribut berbentuk tengkorak yang masa itu sangat populer sebagai kepercayaan Hinduisme aliran Nwertti pada masa Kerajaan Kediri akhir.

6.ARCA MBAH BUDHO
Yang dimaksud sebagai arca “Mbah Budho” sebenarnya adalah arca Ganesha dengan penggambaran bentuk yang pendek dengan mahkota yang telah rusak terpenggal, arca ini terletak di Jalan Jenderal Soedirman Pare (ditengah kota, tepatnya di alun-alun Kota Pare), arca ini berdampingan dengan arca Dwarapala dengan kondisi kepala arca terpenggal, keterangan lebih lanjut dari dua arca ini sangat kurang, namun secara ikonografis dari gaya pahatannya menunjukkan bahwa arca ini diperkirakan berasal dari masa Kerajaan Majapahit.

7.SITUS CALON ARANG
Berada di Desa Sukorejo, Kecamatan Gurah (sebelah barat laut Kota Kediri), situs ini dipercaya olah masyarakat sebagai petilasan dari Calon Arang atau Janda Girah. Tokoh ini berasal dari masa Airlangga. Di situs ini terdapat artefak berupa umpak batu (batu landasan tiang penyanggah rumah), fragmen batu kuno dan batu ambang pintu.

8.SITU TONDOWONGSO
Situs Tondowongso berada di dusun Tondowongso, Desa gayam, Kecamatan Gurah. Sitis ini merupakan situ baru, yang ditemukan pada awal tahun 2007, dilihat dari artefak temuannya yang berupa area Brahma, Durga Mahesa Mardhini dan Nadhi serta ditemukannya struktur bengunan disekitarnya kemungkinan situs ini meripakan komplek candidan diduga sebagai peninggalan dari Kerajaan Majapahit.

9.PRASASTI SIMAN
Prasasti Siman berada di Desa Siman, Kecamatan Kepung, prasasti ini berjumlah dua buah dan diperkirakan masih asli berada di tempatnya (in situs), berdasarkan simbol yang digunakan pada salah satu dari parsasti tersebut adalah bunga lotus dapat diketahui bahwa prasasti ini dikeluarkan pada masa Kerajaan Singasari.

10.WATU GAJAH
Arca Gajah ini terletak di tengah hutan di Desa Karang Dinoyo, Kecamatan Puncu. Arca Gajah ini digambarkan sedang berdiri menghadap kearah barat dengan diapit oleh anaknya disebelah kanan dan tokoh manusia sedang menuntunnya di sebelah kiri. Dari penggambarannya diperkirakan arca ini belum selesai.

11.KUMPULAN ARTEFAK DI BALAI DESA BRUMBUNG
Kumpulan artefak ini disimpan di halaman Balai desa Brumbung, Kecamatan Kepung, dengan kondisi yang cukup terawat, artefak-artefak ini merupakan hasil penemuan dari masyarakat Desa Brumbung dan sekitarnya yang dikumpulkan secara kolektif di Kntor Balai Desa. Beberapa artefak ini diantaranya adalah :
a.Kepala Kala
Penggambarannya diwujudkan sebagai kepala raksasa yang sangat menyeramkan, hiasan berbentuk kala ini biasanya ditempatkan diatas ambang pitu sebuah bangunan suci (candi), secara simbolis hiasan ini merupakan lambang tolak bala.
b.Arca Dwarapala
Merupakan arca penjaga, arca ini biasanya diletakkan pada gerbang utama suatu bangunan, atribut yang menjadi ciri khas dari arca ini adalah senjatanya yang berupa gada dengan posisi duduknya yang setengah jongkok, pada periode tertentu penggambaran arca ini sangat menyeramkan terkait dengan kepercayaan masyarakat pada waktu itu,
c.Prasasti I
Prasasti brumbung I, prasasti ini merupakan artefak peninggalan pada masa Kerajaan Kediri, hal ini dapat diketahui dari simbol yang dipahatkan pada prasasti tersebut yaitu “Chandra Kapala” (simbol berupa tengkorak bertaring diatas bulan sabit), dalam prasasti ini juga menyebut Raja Sri bameswara.
d.Prasasti II
Prasasti Brumbung II, prasasti ini merupakan peninggalan dari Kerajaan Majapahit, simbol kerajaan dipahat pada prasasti ini adalah “Surya Majapahit” (simbol berupa Cahaya Matahari) yang merupakan lambang Kerajaan Majapahit.
e.Ambang Pintu
Artefak ambang pintu ini berupa balok batu yang dilubangi untuk memasang kusen dan daun pintu, artefak ini kemungkinan merupakan ambang pintu tumah yang biasa digunakan pada masyarakat pada masa kerajaan.
f.Yoni
Merupakan pasangan dari lingga, yoni merupakan simbol dari Dewi Uma, istri Dewa Çiwa. Sedangkan lingga merupakan simbol dari Çiwa, penyatuan kedua simbol ini dalam Mitologi Hindu sebagai lambang terjadinya alam semesta. Yoni ini memiliki ragam hias yang indah dengan ukiran naga dibawah ceritanya.
g.Bejana Batu
Meruapakan artefak yang berbentuk elips dengan berbahan batu andesit, fungsinya pada masa lalu diperkirakan sebagai wadah untuk membuat perkakas atau senjata dari logam oleh para mpu.

12.GEREJA POHSARANG
Gereja Pohsarang berada di Desa Pohsarang, Kecamatan Semen, kabupaten Kediri, dibangun pertama kali oleh Herman Maclaine Pont, seorang arsitektur berkebangsaan Belanda pada tahun 1936. gereja ini sangat unik dikarenakan konstruksinya yang mengadopsi budaya lokal dengan proses akulturasi budaya yang sangat kental.
Kontruksi bangunan utama gereja menggunakan bentang kawat baja sebagai atap, sedangkan gentengnya diikatkan satu persatu pada bentang kawat baja tersebut, pada bagian interior bangunan utama yaitu altar, menggunakan batang merah yang dibuat dengan sistem kosod (yaitu merekatkan bata tanpa spesi) dengan beberapa ukiran pahat yang mengingatkan pada monumen-monumen peninggalan Majapahit sehingga memberi kesan sakral. Pada bangunan pendukungnya antara lain menara lonceng, pagar dan relief menggunakan batu kali yang disusun dengan spesi berbahan semen dan dibentuk dengan sangat artistik. Pada sisi atas menara lonceng masih menggunakan penunjuk arah angin berbentuk ayam jantan.


13.MUSEUM DAERAH BHAGAWANTA BHARI
Yang ada diwilayah kabupaten Kediri, sesuai dengan UU. No. 5 tahun 1992, tentang benda cagar Budaya (BCD). Koleksi yang ada di Museum ini antara lain :

a.Arca Ganesha
Arca yang digambarkan berbentuk manusia berkepala gajah, bertangan empat, diceritakan sebagai anak dari dewa Çiwa. Ganesha dilambangkan sebagai Dewa Ilmu Pengetahuan, atribut yang disandangnya antara lain : paraçu, aksamala, dan mangkok.

b.Arca Nandi
Arca yang dugambarkan berbentuk sapi, dalam mitologi Hindu, nandi merupakan wahana/kendaraan Çiwa serta merupakan simbolisasi dari Dewa Çiwa.

c.Miniatur Rumah
Artefak ini berbentuk berbentuk meneatur rumah, secara simbolis berfungsi sebagai sarana, sampai dengan Kerajaan Majapahit.

d.Arca Tokoh
Arca ini merupakan arca penggambaran tokoh yang belum terindentifikasi, dipahat dua muka, digambarkan sebagai tokoh laki-laki dan perempuan.

e.Arca Brahma
Arca Dewa Brahma dugambarkan berwajah dan bertangan empat, atribut yang disandangnya antara lain Çamara dan Aksmala. Dalam mitologi Hindu, Dewa Brahma.

f.Jaladwara
Merupakan bagian dari bangunan candi yang berfungsi untuk mengalirkan air hujan (talang air), jaladwara dalam mitologi Hindu digambarkan sebagai makhluk mistis bawah air yang bertaring dan berbelalai, secara simbolis artefak ini merupakan lambang tolak bala.

g.Bejana / Gentong Batu
Artefak yang memiliki aspek fungsi sebagai media untuk menyimpan air.

h.Arca Wisnu
Dalam kepercayaan Hindu, dewa Wisbu merupakan Dewa Pemelihara / Penjaga Alam Semesta, digambarkan bertangan empat dengan atribut yang disandangnya berupa Chakra dan Çamara. Dari penggambaran tangan yang berada didepan dada dan Vas yang berisi bunga teratai dikanan kiri tokoh, kemungkinan arca ini merupakan arca penokohan seorang raja yang berkuasa pada masa Kerajaan Singasari.

i.Kepala Kala
Merupakan artefak bagian dari bangunan suci (candi), penggambarannya diwujudkan sebagai kepala raksasa yang sangat menyeramkan, hiasan berbentuk kala ini biasanya ditempatkan diatas ambang pintu sebuah bangunan suci (candi), secara simbolis hiasan ini merupakan lambang tolak bala, dan dari bentukanya kemungkinan artefak ini belum selesai dikerjakan.

j.Fregmen Kemuncak
Fregmen ini merupakan bagian atas / kemuncak dari bangunan candi yang biasanya menghiasi atap suatu bangunan candi.

k.Lapik Arca
Lapik merupakan landasan dari arca, Lapik ini berbentuk Padma (teratai) atau biasa disebut Padmasana, namun tidak diketahui arca apa yang berda diatasnya, beberapa lapik arca dipahatkan dengan motif / ragam hias berupa tengkorak dan kura-kura.
l.Umpak Batu
Umpak batu berfungsi sebagai tempat penyangga tiang utama sebuah bangunan, Umpak biasanya minimal berjumlah 4 (empat) buah, ragam hiasnya berbentuk padma.

m.Fregmen Tembikar
Merupakan fragmen gerabah atau tembikar yang belum jelas jenisnya.

Selain situs-situs serta Benda Cagar Budaya yang sudah ditampilkan, sebenarnya masih banyak situs dan BCB yang tersebar di wilayah Kabupaten Kediri yang perlu dilestarikan.
















































BAB IV
KESUSASTRAAN KUNO


Dari jaman kuno telah sampai pada generasi sekarang sejumlah dan hasil kesusastraan yang dapat memberi gambaran tentang betapa tingginya seni sastra itu. Menurut waktu perkembangannya, kesusastraan jaman kuno dibagi menjadi kesusastraan : jaman Mataram (sekitar abad ke-9 dan 10), Kediri (sekitar abad 11 dan 12), jaman Majapahit I (sekitar abad ke-14) dan jaman Majapahit II (sekitar abad ke-15 dan 16).
Menilik bentuk gubahannya, hasil-hasil kesusastraan jaman kuno ditulis sebagai gancaran (prosa) dan tembang (puisi). Sebagian yang terbesar adalah tembang. Tembang Jawa kuno umumnya disebut “kakawin”, sedangkan tembang Jawa tengahan disebut “kidung”. Sedangkan ditinjau dari sudut isinya, maka kesusastraan kuno terdiri atas : tutur (kitab keagamaan, seperti Sang Hayang Kamahayanikan), çastra (kitab hukum), wiracarita (cerita kepahlawanan), dan kitab-kitab cerita lainnya yang isinya mengenai keagamaan atau kesusialaan, serta kitab-kitab yang dimaksud sebagai uraian sejarah.
Kediri, yang hasil-hasilnya terutama berupa kakawin, diantaranya :

1.Arjunawiwiaha, karangan mpu Kanwa
Isinya meriwayatkan Arjuna yang bertapa untuk mendapatkan senjata guna keperluan perang melawan kaurawa kelak, sebagai petapa Arjuna berhasil pula membasmi raksasa niwatakawaca yang menyerang kahyangan, dan sebagai hadiah maka Arjuna diperkenankan menikmati hidup di indraloka beberapa lama.

2.Krsnayana, karangan mpu Trigunan
Isisnya meriwayatkan Krsna, sebagai anak yang nakal sekali, tetapi dikasihi orang karena suka menolong dan mempunyai kesaktian yang luar biasa. Setelah dewasa ia menikah dengan Rukmini dengan jalan menculiknya.

3.Sumanasantaka, karangan mpu Monoguna
Isinya menceritakan bidadari Harini yang kena kutuk bhagawab Trnawindu dan menjelma menjadi seorang puteri, kemudian kawin dengan sorang raja dan beranak Dacaratha. Habis waktu kutukannya ia kembali ke kahyangan, dan tak lama kemudian suaminya menyusul.

4.Smaradahana, karangan mpu Dharmaja sebagai persembahan kepada Raja Kameswara yang dianggap titisan Dewa Kama
Isinya tentang lenyapnya Kama dan Ratih dari Kahyangan, karna habis terbakar oleh sinar api yang keluar dari mata ketiga dewa Çiwa, kemudian mengembara di atas dunia menjadi penggoda manusia.

5.Bharatayuddha, karangan mpu Sedah dan Mpu Panuluh (1157 M)
Isinya, peperangan selama 18 hari antara Pendawa dengan Kurawa, Mahabharata.

6.Hariwangsa, karangan mpu Panuluh
Dalam garis besarnya, ceritanya sama dengan Krsnayana, terutama mengenai perkawinan Krsna dengan Rukmini.

7.Gatotkacacraya, karangan mpu Panuluh
Isinya menceritakan peristiwa perkawinan Abhimanyu dengan Siti Sundhari, yang hanya dilangsungkan dengan bantuan Gatotkaca.

8.Wrttasancaya, karangan mpuTanakung
Kitab ini dimaksudkan sebagai pelajaran dan bimbingan untuk menyelami tembang Jawa Kuno (kakawin). Isinya 94 macam bentuk kakawin, yang digubah dalam bentuk cerita yang mengkisahkan perjalanan sepasang burung belibis dalam usaha mereka menolong seorang puteri yang kehilangan kekasihnya. Karena peranan utama dipegang oleh burung belibis yang menjadi utusan, maka kitab ini diberi nama juga “Cakrawakaduta”

9.Lubdhaka, karangan mpu Tanakung (jaman Ken Arok)
Labdhaka adalah seorang pemburu yang tidak sengaja melakukan pemujaan yang sangat istimewa terhadap Çiwa. Maka meskipun roh seorang pemburu harus masuk neraka karena pekerjaannya hanyalah membunuh sesama makhluk saja, roh Labdhaka itu diangkat Çiwa ke sorga.
















































DAFTAR PUSTAKA



Notosusanto, Nugroho, dkk, “Sejarah Nasional Indonesia II” Depdikbud, Balai Pustaka, Jakarta, 1992

Soekmono, R., “Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2” Kanisius, Yogjakarta, 1973

Sukarto Kartoatmojo, MM, “Harijadi Kediri”, Lembaga Javanologi – Universitas Kadiri. Yogjakarta, 1985

………….., “Buku pengembangan Pariwisata Kota Kediri”, Kantor Parsenibud, Kota Kediri, 2004

………….., “Profil Kebudayaan Kabupaten Kediri”, Kantor Parsenibud. Kabupaten Kediri, 2006

………….., “Manusuk Sima, Dari sini Kota Kediri Berdiri”, Barometer, Edisi Juli Kediri, 2007

2 komentar:

  1. JALI MERAH = JANGAN SEKALI KALI MELUPAKAN SEJARAH. ITULAH SEMBOYAN NENEK MOYANG.

    BalasHapus